Feeds:
Pos
Komentar

baklava

Baklava

Bahan Sirup

  • 150 ml air
  • 150 gram gula pasir
  • 1 batang kayu manis
  • 1 sdm madu
  • 1 sdm air lemon

Cara membuat :

Masak dalam api kecil gula  pasir ,air dan kayu manis sampai mendidih, kemudian masukkan madu dan lemon, masak terus sirup selama 15 menit. Kemudian sisihkan, biarkan dingin.

Filling :

  • 50 gram walnut
  • 50 gram almond
  • 50 gram pistashio
  • 1/2 sdt kayu manis bubuk
  • 50 gram gula pasir

Cara Membuat

Panggang sebentar kacang selama 5 menit dengan suhu 150 derajat, menggunakan chopper ptoses sampai menjadi butiran kasar, kemudian campur dengan gula pasir dan kayu manis, sisihkan.

Untuk proses selanjutnya

  • 150-200 gram unsalted butter kemudian cairkan
  • Fillo pastry, banyaknya sesuaikan ukuran loyang.

Penyelesaian :

  • Siapkan loyang, oles dengan butter cair, letakkan 1 layer fillo pastry, oles lagi dengan butter cair, sampai merata menggunakan kuas besar, tutup lagi denga 1 layer fillo pastry, oles lagi dengan butter cair sampai 3 layer dibuat hal yg sama.

layer 1

  • Taburkan kacang secara merata diatasnya, tutup dengan satu layer Fillo pastry, oles lagi dengan butter tutup lagi dengan fillo pastry lakukan sampai 3 layer dan tiap pastry dioles dengan butter seperti di no 1, kemudian taburkan kembali sisa kacang secara merata. Tutup  dengan sisa fillo pastry 8 layer, tiap layer dioles butter secara merata, kemudian potong bagian atasnya sesuai pola yg kita inginkan.

layer 2

layer 3

  • Bakar dalam oven yg sudah dipanaskan suhu 170 derajat ( aku pake oven listrik jenis microwave combi oven, jadi suhu selalu dikurangkan dari yg seharusnya)  untuk membuat baklava ini menghabiskan  waktu di oven sekitaran 1 jam untuk kuning kecoklatan.
  • Setelah, matang keluarkan dari oven dan tuang sampai merata sirup diatasnya. Biarkan meresap, aku pake cara menyimpan kembali loyang kedalam oven yg masih panas, sirup lebih cepat meresap, kemudian setelah dingin, potong mengikuti pola yg sudah dibuat, hidangkan.

finishing

Sate Ayam

Sate merupakan salah satu makanan yang sangat populer dan saat ini variasinya pun bermacam macam, disini ifa mau coba kasih resep sate ayam yang simple aja dan gampang kok buatnya gak susah, oke langsung aja ya

Bahan Utama

  • Daging Ayam, potong dadu sesuatu selera
  • Marinate (bawang merah dan bawang putih halus, garam, gula pasir, ketumbar bubuk, madu)
  • Tusuk Sate

Bumbu

  • 5 siung bawang merah, haluskan
  • 3 siunyg bawang putih, haluskan
  • 3 buah cabai merah, haluskan (sesuai selera)
  • 5 sdm pasta kacang tanah
  • 1 sdt merica bubuk
  • 2 sdm kecap manis
  • Garam, secukupnya
  • Gula, secukupnya
  • Minyak untuk menumis
  • Air secukupnya

Cara Membuat

  • Marinate daging ayam yang telah dipotong selama kurang lebih 2 jam
  • Setelah selesai proses marinate, susun daging ayam di tusuk sate
  • Bakar sate diatas pembakaran
  • Tumis bumbu halus hingga harum, masukkan garam dan gula pasir, aduk rata
  • Masukkan pasta kacang tanah, aduk rata kemudian masukkan air, tambahkan merica aduk terus hingga merata
  • Tambahkan keecap manis kedalam bumbu, aduk hingga merata
  • Sajikan sate dengan sausnya

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Surah Al Hujuraat : 11)

Dalam ayat tersebut Allah secara tegas melarang orang-orang yang beriman khususnya juga ummat manusia pada umumnya untuk saling merendahkan atau memperolok satu sama lain, dalam ayat tersebut ditegaskan larangan bagi sekelompok orang dengan kata “Qoumun” yang mana mengandung makna universal antara laki-laki dan perempuan, walaupun biasanya lebih digunakan untuk menunjukkan sekelompok orang laki-laki, dan kemudian dipertegas dengan larangan kepada sekelompok orang perempuan dengan kata “Nisaa’un” yang mempunyai makna khusus yaitu sekelompok orang perempuan. Jadi dilihat dari aspek tersebut jelaslah bahwa larangan tersebut adalah larangan yang universal baik itu laki-laki maupun perempuan.

Allah SWT. melarang kita untuk saling merendahkan satu sama lain karena bisa jadi orang yang kita rendahkan itu derajatnya lebih tinggi disisi Allah SWT. karena kedudukan orang disisi Allah SWT. tidak dilihat dari bentuk rupa fisiknya akan tetapi dilihat dari kualitas keimanannya, semakin bagus kualitas keimanannya maka semakin tinggi derajatnya disisi Allah SWT.

Kemudian dalam ayat tersebut dilanjutkan dengan larangan untuk mencela diri sendiri dan memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk, yang mana maksudnya kita dilarang untuk mencela satu sama lain  karena mencela orang lain sama artinya dengan mencela diri sendiri, dan juga kita dilarang memanggil orang dengan panggilan yang buruk yaitu panggilan yang tidak enak didengar. Allah SWT. melaknat orang yang suka mencela sebagaimana firman Allah SWT. yang artinya : “Celakalah orang pengupat lagi pencela”. (QS. Al-Humazah : 1)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Jubairah bin adh Dhahak, ia berkata: “Firman Allah: “Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk,” turun untuk kami Bani Salamah.” Abu Jubairah melanjutkan, “Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, kala itu setiap orang memiliki dua atau tiga nama. Siapa yang memanggil, nama-nama itulah yang dipakai. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia akan marah dengan nama itu. Kemudian turunlah ayat, “Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk” (HR Ahmad). Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Dawud. (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Qurthubi)

(Ringkasan Tafsir Imam Al Qurthubi)

“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok). “

Pada penggalan ayat ini setidaknya ada empat masalah yang dibahas, yaitu:

Pertama :

Firman Allah SWT., “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)” Menurut satu pendapat, (maksudnya lebih baik) di sisi Allah SWT.

Menurut satu pendapat yang lain, (yang dimaksud dari firman Allah) : “Lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok),” adalah karena dia telah memiliki akidah dan telah memeluk agama Islam di dalam hatinya.

Kedua :

Terjadi perbedaan mengenai Asbabu Nuzul atau sebab turunnya ayat tersebut.

Pendapat pertama

Ibnu Abbas berkata, “Ayat ini diturunkan pada Tsabit bin Qais bin Syams yang mempunyai gangguan pendengaran di telinganya. Apabila mereka mendahuluinya datang ke majelis Nabi SAW, maka para sahabat pun selalu memberikan tempat untuknya ketika dia datang, agar dia dapat duduk di samping beliau, sehingga dia dapat mendengar apa yang beliau katakan. Suatu hari Tsabit datang pada saat shalat Shubuh bersama Nabi SAW sudah berlangsung satu rakaat. Ketika Nabi SAW selesai shalat, maka para sahabat pun mengambil tempat duduknya di majelis itu. Masing-masing orang menempati tempat duduknya dan tidak mau beralih dari sana, sehingga tak ada seorang pun yang mau memberikan tempat untuk orang lain Akibatnya, orang yang tidak menemukan tempat duduk terpaksa harus berdiri. Ketika Tsabit telah menyelesaikan shalatnya, dia melangkahi leher orang-orang dan berkata, ‘Lapangkanlah, lapangkanlah’ Mereka kemudian memberikan kelapangan padanya, hingga dia sampai di dekat Nabi SAW. Namun antara dia dan Nabi SAW masih terhalang oleh seseorang. Tsabit kemudian berkata kepada orang itu, Lapangkanlah’ Orang itu menjawab, ‘Engkau telah menemukan tempat duduk, maka duduklah engkau.’ Tsabit duduk di belakang orang itu dalam keadaan yang kesal. Dia bertanya, Siapa orang ini?’ Para sahabat menjawab, `Fulan.’ Tsabit berkata, ‘Oh, anak si fulanah? “Tsabit mengejek orang itu dengan ungkapan tersebut. Maksudnya, apa statusnya pada masa jahiliyah. Orang itu pun menjadi malu, lalu turunlah ayat ini”.

Pendapat kedua

Adh-Dhahak mengatakan bahwa ayat ini diturunkan pada utusan Bani Tamim ketika mereka melihat keadaan para sahabat yang miskin seperti Ammar, Khabab, Ibnu Fahirah, Bilal, Shuhaib, Salman, Salim budak Abu Hudzaifah, dan yang lainnya, maka mereka pun mengejek orang-orang itu Maka turunlah ayat ini tentang orang-orang yang beriman dari orang-orang itu.

Mujahid berkata, “Olok-olokan tersebut adalah olok-olokan orang kaya terhadap orang miskin.”

Ibnu Zaid berkata, “Janganlah orang-orang yang dosanya ditutupi oleh Allah mengolok-olok orang-orang yang dosanya dinampakan olehAllah. Karena boleh jadi penampakan dosa-dosanya di alam dunia itu merupakan hal yang lebih baik baginya di akhirat kelak.”

Pendapat ketiga

Menurut satu pendapat, ayat ini diturunkan tentang lkrimah bin Abi Jahl, saat dia tiba di Madinah dalam keadaan telah memeluk agama Islam. Saat itu, apabila kaum muslim melihatnya, maka mereka pun berkata, “(Dia) anak Fir’ aun ummat ini.” Ikrimah mengadukan hal itu kepada Rasulullah SAW, kemudian turunlah ayat ini.

Secara global, seyogyanya seseorang tidak boleh berani mengolok-olok seseorang lainnya yang keadaannya terlihat memprihatinkan, atau mempunyai cacat di tubuhnya, atau tidak pintar dalam berkomunikasi dengannya. Sebab boleh jadi orang itu lebih tulus perasaannya dan lebih suci hatinya dari pada orang yang keadaannya berlawanan dengannya. Dengan demikian, dia telah menzhalimi diri sendiri, karena telah menghina orang yang dimuliakan Allah dan merendahkan orang yang diagungkan Allah.

Sesungguhnya para sahabat sangat memelihara diri mereka dari perbuatan yang demikian itu. Sampai-sampai diriwayatkan bahwa Amru bin Syurahbil berkata, “Jika aku melihat seseorang menyusui anak anjing, kemudian aku menertawakannya, maka aku khawatir diriku akan melakukan apa yang dilakukannya.” Dari Abdullah bin Mas’ud diriwayatkan: “Musibah itu disebabkan oleh ucapan. Jika aku mengolok-olok anjing, aku merasa takut akan berubah menjadi anjing”.

Ketiga :

Firman Allah SWT., “Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok).”

Allah menyebutkan kaum perempuan secara khusus, karena pengolok-olokan itu sering dilakukan oleh mereka. Allah SWT. berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya.” (Qs. Nuh : 1).

Para mufassir berkata, “Ayat ini diturunkan tentang dua orang istri Nabi SAW yang mengolok-olok Ummu salamah. Pasalnya Ummu Salamah mengikat kedua bagian tengah (tubuh) nya dengan Sabibah, yaitu kain putih. Sesuatu yang seperti Sabibah adalah Sab. Setelah itu, dia menjulurkan ujung kain putih itu ke bagian belakang tubuhnya, sehingga dia menarik-nariknya. Aisyah kemudian berkata kepada Hafshah, `Lihatlah apa yang ditariknya di belakangnya. Itu seperti lidah anjing”. Inilah olok-olok kedua orang istri Nabi SAW tersebut.

Anas dan Ibnu Zaid, “Ayat ini diturunkan tentang istri Nabi yang mengejek Ummu Salamah karena (posturnya) yang pendek”.

Menurut satu pendapat, ayat ini diturunkan pada Aisyah yang memberi isyarat dengan tangannya kepada Ummu Salamah, (seolah-olah dia mengatakan): “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya dia itu pendek”.

Ikrimah mengutip dari Ibnu Abbas: “Sesungguhnya Shafiyah binti Huyay bin Akhthab datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya perempuan-perempuan itu.mengejekku, dan mereka mengatakan kepadaku: “Wahai wanita Yahudi anak perempuan orang-orang Yahudi.” Rasulullah SAW kemudian bersabda, Mengapa engkau tidak katakan: “Sesungguhnya ayahku adalah Harun, pamanku adalah Musa, dan suamiku adalah Muhammad”. Allah kemudian menurunkan ayat ini”.

Keempat :

Dalam Shahih At-Tirmidzi terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dan Aisyah. Aisyah berkata, “Aku memeragakan perbuatan seseorang kepada Nabi SAW, lalu beliau bertanya tentang apa yang membuatku ingin menirukan perbuatan orang itu, dan bahwa aku (melakukan) ini dan itu. Aku kemudian berkata, `Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ummu Salamah adalah seorang wanita yang anu..’.” Aisyah memberi isyarat dengan tangannya seperti ini. Maksudnya, Ummu Salamah adalah wanita yang pendek. Beliau kemudian bersabda, “Sesungguhnya engkau telah mengatakan sebuah perkataan yang jika dicampurkan ke laut, niscaya ia akan mengeruhkannya.” (HR Abu Dawud)

Dalam Shahih Al Bukhari terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Zam’ ah. Abdullah berkata, “Rasulullah SAW melarang seseorang menertawakan apa yang keluar dari dalam tubuh. Beliau bersabda, “Mengapa salah seorang dari kalian memukul istrinya seperti memukul kuda pejantan, kemudian dia memeluk istrinya itu.” (HR Bukhari)

Dalam Shahih Muslim terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah. Abu Hurairah berkata, “Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah itu tidak memandang rupa dan harta kalian, akan tetapi Dia memandang hati dan amal perbuatan kalian” (HR Muslim)

Hadits itu merupakan hadits yang agung. Jika berdasarkan kepada hadits itu, maka seseorang tidak dapat menetapkan aib seseorang lainnya, saat dia melihatnya melakukan ketaatan atau melakukan penyimpangan. Sebab boleh jadi orang yang suka mengerjakan perbuatan baik, namun karena Allah mengetahui bahwa di dalam hatinya ada sifat tercela, maka perbuatan baiknya itu menjadi tidak sah karena adanya sifat yang tercela itu.

Boleh jadi pula orang yang kita lihat suka melakukan dosa dan kemaksiatan, namun karena Allah mengetahui bahwa di dalam hatinya adalah sifat yang terpuji, maka Allah pun mengampuni dosa-dosanya. Dengan demikian, amaliyah hanyalah sebuah tanda yang bersifat tak-pasti, bukan dalil yang bersifat pasti.

Berdasarkan kepada hal itu, kita tidak boleh berlebihan dalam memuliakan orang yang kita lihat melakukan perbuatan shalih, juga tidak boleh menghina seorang muslim yang kita lihat suka mengerjakan perbuatan yang buruk. Dalam hal ini, yang harus direndahkan dan dicela itu adalah sifat buruknya dan bukan orangnya. Renungkanlah hal ini, sebab ini merupakan hipotesa yang detil. Kepada Allah lah kita memohon taufiq.

Kemudian penggalan firman Allah dalam ayat tersebut, “Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri.”

Dalam penggalan ayat ini setidaknya dibahas tiga masalah:

Pertama :

Al-Lamz adalah Al `Aib (cela). Ath-Thabari berkata, “Al-Lamz dapat dilakukan dengan tangan, mata, lidah dan isyarat. Sedangkan Al Hamz hanya dapat dilakukan dengan lidah.”

Ayat ini seperti firman Allah Ta’ ala, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu.” (Qs. An-Nisaa’: 29).

Maksudnya, janganlah sebagian dari kalian membunuh sebagian yang lain. Sebab orang-orang yang beriman itu seperti jiwa yang satu, hingga membunuh saudaranya sama dengan membunuh dirinya sendiri. Juga seperti firman Allah SWT. :
“Hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri.” (Qs. An-Nuur : 61).

Maksudnya, (hendaklah) sebagian dari kamu (memberi salam) kepada sebagian yang lain. Makna firman Allah tersebut adalah: janganlah sebagian dan kalian mencela sebagian yang lain.

Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah dan Sa’ad bin Jubair mengatakan (bahwa makna firman Allah tersebut adalah) : janganlah sebagian dari kalian memfitnah sebagian yang lain.

Adh-Dhahak berkata, “(Makna firman Allah tersebut adalah): janganlah sebagian dan kalian melaknat sebagian yang lain.”

Pada firman Allah: “Anfusakum” terdapat peringatan bahwa orang yang berakal itu tidak akan mencela diri sendiri. Maka tidak sepantasnya dia mencela orang lain, sebab orang lain itu seperti dirinya sendiri. Rasulullah SAW bersabda : “Orang-orang yang beriman itu seperti tubuh yang satu. jika ada satu anggota tubuh yang mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh akan merasakan dengan tidak dapat tidur dan demam” (hadits dengan redaksi yang sedikit berbeda diriwayatkan oleh Muslim).

Bala bin Abdullah Al Muzani berkata, “Jika engkau hendak melihat semua cela, maka renungkanlah orang yang sangat banyak celanya. Sesungguhnya orang-orang akan mencela(nya) karena kelebihan cela (aib) yang ada padanya.”

Menurut satu pendapat, di antara kebahagiaan seseorang adalah jika dia sibuk dengan aib dirinya bukan dengan aib orang lain.

Seperti kata syair : “Jangan sekali-kali engkau membuka aurat orang yang telah mereka tutupi, Sebab Allah akan membuka penutup auratmu. Sebutkanlah kebaikan yang ada pada mereka, jika mereka menyebutkan. Dan janganlah engkau mencela seseorang dari mereka dengan mulutmu.”

Kedua :

Firman Allah SWT., “Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”

Dalam Sunan At-Tirmidzi terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Jabirah bin Adh-Dhahak, dia berkata, “Seseorang dan kami mempunyai dua atau tiga nama, kemudian dia dipanggil dengan sebagian nama itu, sehingga mungkin saja diaakan tidak senang. Maka turunlah ayat ini : `Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk’ .” At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini adalah hadits hasan”.

Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” Ini pendapat yang pertama.

Adapun pendapat yang kedua, Al Hasan dan Mujahid berkata, “Seseorang mencela (seseorang lainnya) setelah masuk Islam dengan kekufurannya: “Wahai Yahudi,” ‘Wahai Nashrani’, sehingga turunlah ayat ini. “Hal itu pun diriwayatkan dari Qatadah, Abu Al Aliyah dan Ikrimah. Qatadah berkata, “Itu adalah ucapan seseorang kepada seseorang lainnya: Wahai Fasik, wahai Munafik’.” Hal itu pun dikemukakan oleh Mujahid dan juga Al Hasan.

“Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman.” Maksudnya, betapa buruk jika seseorang disebut kafir atau pezina setelah dia masuk Islam dan bertobat. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Zaid.

Menurut satu pendapat, makna firman Allah tersebut adalah: bahwa orang yang memanggil saudaranya dengan panggilan yang buruk dan mengolok-oloknya adalah orang yang fasik.

Pendapat yang shahih (dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa makna firmanAllah itu adalah tentang) orang yang berkata kepada saudaranya: “Wahai Kafir.” Sebab salah seorang dari keduanya telah mengakui hal itu (kafir), jika memang orang yang dipanggil itu seperti yang dikatakannya. Tapi jika tidak, maka panggilan itu (kafir) kembali kepada orang yang mengatakannya”. (HR Bukhari).

Dengan demikian, barangsiapa yang melakukan apa yang dilarang oleh Allah yaitu mengolok-olok, mencela, dan memanggil dengan panggilan yang buruk, maka dia adalah orang yang fasik, dan hal itu merupakan tindakan yang tidak diperbolehkan.

Diriwayatkan bahwa Abu Dzar ada di dekat Nabi SAW kemudian seseorang menentangnya. Abu Dzar berkata kepada orang itu, “Wahai anak orang Yahudi.” Nabi SAW bersabda, “Tidak terlihat merah dan hitam di sini. Engkau tidaklah lebih baik darinya,” maksudnya (kecuali) karena ketaqwaan. Lalu turunlah ayat: “Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk”.

Ibnu Abbas berkata, “Panggil-memanggil dengan panggilan yang buruk adalah jika seseorang melakukan kebaikan, kemudian dia bertobat. Dalam hal ini, Allah melarang untuk mencela (seseorang) dengan apa yang telah dia kerjakan.” Hal itu ditunjukan oleh hadits yang diriwayatkan, bahwa Nabi SAW bersabda :
“Barangsiapa yang mencela seorang mukmin karena dosa yang dia telah bertobat darinya, maka adalah hak Allah untuk mengujinya dengan dosa tersebut dan menghancurkannya karena dosa tersebut di dunia dan akhirat”. (HR Tirmidzi).

Ketiga :

Ada yang dikecualikan dari larangan panggil-memanggil dengan panggilan buruk, yaitu panggilan yang sudah biasa digunakan, seperti pincang dan bungkuk, dan orang yang dipanggil dengan panggilan ini tidak mempunyai kemampuan untuk lepas dari apa yang dipanggilkan kepadanya. Hal itu dibolehkan oleh ummat Islam dan telah disetujui oleh para penganut agama.

Yang patut dijadikan pedoman dalam hal ini, bahwa setiap panggilan yang tidak disukai oleh seseorang, maka jika dia dipanggil dengan panggilan yang tidak disukainya itu, maka hal itu tidak dibolehkan, karena akan menyakiti (yang dipanggilnya).

Al Bukhari membuat sebuah bab pada pembahasan etika di dalam kitab Al Jami’ Ash-Shahih, yaitu bab: Panggilan yang Boleh Digunakan untuk Memanggil Orang, Seperti Ucapan Mereka: ath-thawiil (si jangkung) dan al qashiir (si pendek), Namun Tidak Dimaksudkan untuk Menghina Seseorang. Al Bukhari berkata, “Nabi SAW bersabda, ‘Apa yang Dikatakan Dzul Yadain (Pemilik Dua Tangan)’.

Abu Abdillah bin Khuwaizimandad berkata, “Ayat ini mencakup larangan untuk memanggil manusia dengan panggilan yang tidak disukainya. Tapi dibolehkan memanggil mereka dengan panggilan yang disukainya. Tidakkah engkau melihat bahwa Nabi SAW menjuluki Umar denganAl Faruq, Abu Bakar denganAsh-Shiddiq, Utsman dan DzuNurain, Khuzaiman dengan Dzu Syahadatain, Abu Hurairah dengan Dzu Syimalain dan Dzul Yadain, dan yang lainnya.”

Az-Zamakhsyari berkata, ” Diriwayatkan dari Nabi SAW : diantara kewajiban seorang mukmin atas mukmin (yang lain) adalah memanggilnya dengan nama yang paling disukainya”. (Al Kasysyaf 4/41)

Oleh karena itu pemberian kuniyah termasuk perkara sunnah dan budi pekerti yang baik. Umar berkata, Populerkanlah kuniyah, sebab is dapat menjadi bahanpengingat. Abu Bakar dijuluki dengan Al Atiq danAsh-Shiddiq, Umar dijuluki dengan Al Faruq, Hamzah dijuluki dengan Asadullah, dan Khalid dijuluki dengan Saifullah. Jarang sekali tokoh terkenal baik pada masa jahiliyah maupun setelah Islam datang, yang tidak memiliki sebuah julukan. Julukan-julukan yang baik ini senantiasa hadir baik di kalangan bangsaArab maupun Non Arab, saat mereka berkomunikasi maupun saat mereka melakukan korespondensi, tanpa dapat diingkari”.

Al Mawardi” berkata, “Adapun julukan/panggilan yang disunnahkan dan dianggap baik, hal itu tidaklah dimakruhkan. Sebab Rasulullah SAW sendiri menyifati beberapa orang sahabatnya dengan sifat-sifat yang kemudian menjadi (identitas) mereka, hanya karena mereka dijuluki (dengan sifat-sifat tersebut)”.

Mnurut Al Qurtubhi : adapun julukan yang zhahimya tidak akan disukai, jika julukan ini dimaksudkan sebagai sifat bukan untuk mencela, hal itu banyak terjadi. Abdullah bin Al Mubarak pernah ditanya tentang (julukan untuk) beberapa: “Humaid yang jangkung, Sulaiman yang rabun, Humaid yang pincang, dan Marwan yang kecil.” Abdullah bin Al Mubarak berkata, “Jika engkau hendak menyifatinya dan tidak hendak menghinanya, itu tidak masalah”.

Dalam Shahih Muslim terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Sirjis, dia berkata, “Aku pernah melihat Al Ashla ‘ (yang botak) —maksudnya Umar— mengecup Hajar Aswad.” Dalam sebuah riwayat dinyatakan: Al Ushaili’ (yang sedikit botak). (HR. Muslim).

Firman Allah Ta’ala, “Dan barangsiapa yang tidak bertobat,” yakni dari perbuatan memanggil dengan panggilan yang menyakiti orang yang mendengarnya, “Maka mereka itulah orang-orang yang zhalim,” terhadap diri mereka, karena mereka melakukan perbuatan yang terlarang.

Jadi intinya kita tidak boleh merendahkan atau mencela orang lain karena kita belum tentu lebih baik dari orang yang kita cela, terkadang kita beralasan bahwa orang yang dicela tidak pernah marah, namun masalahnya bukan terletak pada marah atau tidaknya orang yang kita cela, akan tetapi seberapa patuh kita kepada Allah SWT. dengan menjauhi larangan-Nya.

Wallahu A’lam bisshawab.


جدول القرائ

الراوي الطريق

الطريق

الراوي

القارئ

إبن بويان

أبي نشيط

قالون

مولده 120 ﻫ المدينة

وفاته 220 ﻫ

(ب)

الإمام نافع المدني

مولده 70 ﻫ المدينة

وفاته 169 ﻫ

(أ)

القزاز

إبن أبي مهران

الحلواني

جعفر بن محمد البغدادي

إسماعيل النخاس

الأزرق

ورش

مولده 110 ﻫ مصر

وفاته 197 ﻫ

(ج)

إبن سيف

هبة الله بن جعفر

الأصبهاني

المطوعي

النقاس

أبي ريبة

البزي

مولده 170 ﻫ مكه

وفاته 250 ﻫ

(ﻫ)

الإمام إبن كثير

مولده 45 ﻫ مكه

وفاته 120 ﻫ

(د)

إبن بنان

احمد بن صالح

إبن الحجاب

عبد الواحد بن عمر

السامري

إبن مجاهد

قنبل

مولده 195 ﻫ مكه

وفاته 291 ﻫ

(ز)

صالح بن محمد بن مبارك

أبي الفرج

إبن شنبوذ

الشطوي

إبن مجاهد

أبي الزعراء

الدوري

مولده 150 ﻫ بغداد

وفاته 246 ﻫ

(ط)

الإمام أبو عمر البصري

مولده 68 ﻫ البصرة

وفاته 155 ﻫ

(ح)

محمد بن يعقوب

زيد ابن أبي بلال

إبن فرج

المطوعي

عبد الله بن الحسن السامري

إبن جرير

السوسي

مولده 191 ﻫ أهواز

وفاته 261 ﻫ

(ي)

إبن حبش

الشذائي

إبن جمهور

الشنبودي

إبن عبدان

الحلواني

هشام

مولده 153 ﻫ دمشق

وفاته 245 ﻫ

(ل)

الإمام إبن عامر الشامي

مولده 8 ﻫ الشام

وفاته 118 ﻫ

(ك)

الأزرق الجمال

زيد ابن أبي بلال

الداجوني

الشذائي

النقاش

الأخفش

إبن ذكوان

مولده 173 ﻫ دمشق

وفاته 242 ﻫ

(م)

إبن الأخرم

الرملي

الصوري

المطوعي

شعيب

يحي بن ادم

شعبة

مولده 95 ﻫ الكوفة

وفاته 193 ﻫ

(ص)

الإمام عاصم الكوفي

مولده (تابعي) الكوفة

وفاته 127 ﻫ

(ن)

أبي حمدون

إبن خليع

العليمي

الرزاز

أبي الحسن الهاشمي

عبيد ابن الصباح

حفص

مولده 90 ﻫ الكوفة

وفاته 180 ﻫ

(ع)

أبي طاهر بن أبي هاشم

الفيل

عمرو ابن الصباح

زرعان

إبن عثمان

إدريس

خلف

مولده 150 ﻫ بغداد

وفاته 229 ﻫ

(ض)

الإمام حمزة

مولده 80 ﻫ الكوفة

وفاته 157 ﻫ

(ف)

إبن مقسم

إبن صالح

المطوعي

إبن شاذان

بدون

الواسطة

خلاد

مولده 130 ﻫ الكوفة

وفاته 220  ﻫ

(ق)

إبن الهيثم

الوزان

الطلحي

البطي

محمد بن يحي

أبو الحارث

مولده بغداد

وفاته 240 ﻫ

(س)

الإمام الكسائي

مولده 119 ﻫ الكوفة

وفاته 189  ﻫ

(ر)

القنطري

ثعلب

سلمه بن عاصم

إبن الفرج

إبن الجلندي

جعفر النصيبي

الدوري

مولده 150 ﻫ بغداد

وفاته 220 ﻫ

(ت)

إبن ديزوية

إبن أبي هشام

أبي عثمان الضرير

الشذائي

إبن شبيب

الفصل ابن شاذان

إبن وردان

مولده المدينة

وفاته 160 ﻫ

(خ)

الإمام أبو جعفر

مولده 70 ﻫ المدينة

وفاته 205 ﻫ

(ث)

إبن هارون (أبو بكر الرازي)

الحنبلي

هبة الله بن جعفر

الحمامي

إبن زرين

أبي أيوب الهاشمي

إبن حماز

مولده المدينة

وفاته 175 ﻫ

(ذ)

الأزرق الجمال

إبن انفاخ

الدوري

إبن نشهل

النخاس

التمار

رويس

مولده البصرة

وفاته 238 ﻫ

(غ)

الإمام يعقوب

مولده 117 ﻫ البصرة

وفاته 205 ﻫ

(ظ)

لأبي الطيب (غلام بن شنبوذ)

إبن مقسم

الجوهري

المعدل

إبن وهب

روح

مولده البصرة

وفاته 235 ﻫ

(ش)

حمزة بن علي البصري

غلام بن شنبوذ

الزبيدي

إبن حبشان (الجوهري)

السوسنجردي (عن ابن أبي عمر)

بدون

الواسطة

إسحاق الوراق

مولده بغداد

وفاته 286 ﻫ

(سح)

الإمام خلف العاشر

مولده 150 ﻫ الكوفة

وفاته 229 ﻫ

(خل)

بكر بن شاذان (عن ابن أبي عمر)

نجلة محمد ابن إسحاق

البرصاطي

الشطي

بدون

الواسطة

إدريس الحداد

مولده 199 ﻫ مكه

وفاته 293 ﻫ

(يس)

المطوعي

إبن بويان

القطيعي

Sumber : Muhammad Ridwan Al-Jufri

Banyak orang bertanya kepadaku, “buat apa kamu belajar banyak bahasa?”, dan akupun terkadang berfikir kenapa aku harus mempelajari banyak bahasa, namun setelah itu selalu terlintas pikiran sederhana dibenakku, “aku ingin mengerti apa yang mereka bicarakan”, ya benar, aku selalu penasaran ketika orang lain terutama orang luar Indonesia berbicara satu sama lainnya dengan menggunakan bahasa mereka, aku ingin tahu apa sebenarnya yang mereka bicarakan itu, apakah mereka berbicara tentang diriku, ataukah mereka hanya sebatas berbicara hal yang lainnya.

Bermula dari pemikiran selintas tersebut aku bilang pada diriku sendiri kenapa tidak, dan gak ada yang salah dengan mempelajari bahasa asing, selagi itu diniatkan ibadah tentunya berpahala, lagipula itu bukan suatu hal yang dilarang oleh agama, memang sih ada beberapa orang yang terlalu ekstrim memahami agama islam yang mengatakan haram hukumnya mempelajari bahasa orang kafir dengan alasan menyerupai mereka, aku piker pemikiran seperti ini sangat tidak berdasar sama sekali, mereka memaknai menyerupai dalam semua aspek, padahal itu salah besar, Rasulullah SAAW. memang melarang ummat Islam menyerupai orang kafir, akan tetapi dalam hal bahasa bukan sesuatu hal yang harus dihindari, bahkan mereka sendiri tidak sadar bahwa mereka sendiri berbicara dengan bahasa yang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAAW., ya mereka berbahasa Indonesia, sungguh suatu hal yang teramat sangat lucu dan menggelikan bahkan terlihat sangat konyol.

Belajar bahasa apa saja tidak ada larangan dalam syariat Islam, karena apapun bahasanya, sesungguhnya Allah SWT. Maha mengerti segala bahasa makhluk-Nya. Sekiranya belajar suatu bahasa termasuk hal yang dilarang oleh syariat, alangkah sempitnya pemikiran semacam itu, sedangkan Rasulullah SAAW. adalah rasul yang diutus oleh Allah SWT. untuk semua makhluk ciptaan Allah yang merupakan suatu cakupan yang universal, beliau tidak hanya diutus untuk satu kaum dan satu bahasa saja, akan tetapi diutus untuk sekalian makhluk-Nya yang ada di jagat raya ini.

Kembali kepada pembicaraan diatas, akhirnya akupun mencoba mempelajari berbagai bahasa yang umum terlebih dahulu seperti bahasa Inggris, Spanyol, Perancis, Mandarin, dan Persia, baru kemudian aku mempelajari bahasa yang lainnya, aku gak membicarakan bahasa Arab, karena bagiku belajar bahasa Arab bukan suatu keharusan akan tetapi lebih dari kebutuhan terutama bagi ummat Islam terlebih aku masih keturunan Arab, bagaimana kita bisa memahami bahasa Al-Qur’an kalau kita tidak mempelajari bahasa Arab beserta seluruh disiplin ilmunya. Dan aku pun memulai semua itu dengan berbagai cara, sebagian bahasa aku dapat melalui kursus sederhana, dan sebagian yang lainnya aku pelajari dari berbagai media, baik itu internet maupun belajar dari teman aku sendiri.

Pada akhirnya aku mempelajari itu semua hanya sekedar ingin tahu, tidak seperti kebanyakan orang yang belajar bahasa asing supaya mendapat pekerjaan diluar negeri atau yang lainnya, tidak sama sekali dan tidak pernah terlintas dalam pikiranku akan hal semacam itu, aku hanya ingin tahu, itu saja. Selebihnya will see.

p1010005

Bahan :

          1 Kg Ikan Tuna ukuran sedang, bersihkan isinya

          1 buah jeruk nipis

          Garam secukupnya

          Minyak Goreng

Bumbu :

          10 buah Cabe Merah Besar (cincang kasar)

          5 siung Bawah Merah (cincang halus)

          1 siung bawang Bombay (cincang kasar)

          1 batang Serai (memarkan)

          1 buah Tomat (potong kotak kecil)

          Minyak Goreng untuk menumis

          Garam secukupnya

          Gula secukupnya

          Bila suka bisa ditambah penyedap rasa

Cara Membuat :

          Marinasi ikan terlebih dahulu dengan cara olesi tubuh ikan dengan perasan air jeruk nipis dan beri sedikit taburan garam kemudian diamkan selama kurang lebih 5 menit.

          Setelah itu panaskan minyak lalu goreng ikan sampai agak kering (bila suka bisa setengah matang), kemudian sisihkan.

          Panaskan kembali minyak lalu masukkan bawang merah, bawang Bombay, dan cabe merah, tumis hingga layu, kemudian sisihkan.

          Tumis tomat yang telah dipotong hingga layu, kemudian masukkan kembali bumbu yang telah ditumis tadi.

          Masukkan batang serai yang telah dimemarkan, kemudian masukkan garam dan gula sambil terus diaduk, bila suka bisa ditambah penyedap rasa.

          Kemudian masukkan ikan yang telah di goreng tadi, aduk hingga merata selama lebih kurang 1 menit.

          Angkat dan sajikan diatas piring dengan hiasan potongan tomat atau sesuai selera.

gulai
Bahan-bahan
  • 500 gram daging sapi atau kambing
  • 1 liter air
  • 2 buah bunga lawang / star anise
  • 2 cm kayu manis
  • 3 buah kapulaga
  • 2 batang serai
  • 3 lembar daun salam
  • 3 lembar daun jeruk
  • asam kandis
  • 500 ml santan agak kental (bisa diganti susu kalau gak suka santan)
  • minyak goreng untuk menumis

Bumbu halus

  • 10 siung bawang merah kecil / 2 bawang bombai
  • 6 siung bawang putih
  • 10 buah cabai merah keriting
  • 4 cm jahe
  • 4 cm lengkuas
  • 1/4 sdt jintan
  • 1/2 sdt ketumbar
  • 1/2 buah biji pala
  • merica
  • garam
  • gula pasir

Cara membuat

  • Rebus daging dalam air mendidih hingga matang dan empuk.
  • Angkat daging, kemudian potong-potong kecil. sisihkan kaldu bekas rebusan daging.
  • Panaskan minyak, tumis bumbu halus dan bumbu lainnya (bunga lawang, kayumanis, kapulaga, serai, daun jeruk, daun salam, asam kandis) hingga wangi.
  • Masukkan air kaldu rebusan daging, masak hingga mendidih.
  • Tuang santan, aduk hingga mendidih.
  • Masukkan daging, aduk sampai merata, kemudian kecilkan api, masak sampai kuahnya kental.
  • Siap dihidangkan.